Rabu, 12 Oktober 2011

REVIEW FILM GIE



           Oleh:M.Nadzir.Alimuddin

            Film ini berkisah tentang seorang demonstran yang segala pemikiran, pendapat, dan gugatan yang gencar ia lancarkan berpengaruh bagi orang-orang di sekitarnya, terutama bagi bangsa Indonesia yang pada saat itu dilanda krisis dan berbagai masalah yang berkecamuk di mana-mana.Pemuda bernama lengkap Soe Hok Gie ini adalah seorang yang berpendirian kuat, pendiam tapi kritis, tidak mudah terpengaruh oleh siapapun, dia adalah seorang pemuda yang bercita-cita akan merubah negeri yang semakin kacau ini, negeri yang di dalamnya terdapat ketidakadilan yang merambah dimana-mana, menjadi Negara yang betul-betul dapat mewujudkan keadilan, persatuan, keamanan, dan kesejahteraan bagi rakyatnya.Dia dikenal sebagai pemuda yang kritis dalam melihat ketidakadilan di negeri ini, terutama pada masa pemerintahan Soekarno.

            Gie kecil dan dibesarkan di kawasan kebon jeruk, Jakarta.Di masa kecilnya, ketika dia masih duduk di bangku sekolah, dia dikenal sebagai anak yang kritis dalam memprotes dan menentang pendapat orang-orang di sekitarnya yang yang berbeda dengan pendapatnya, bahkan dengan gurunya sendiri.Dia di kenal sebagai orang yang keras kepala, berpendirian teguh, dan mempunyai alasan atas segala gugatan dan aspirasinya.Dibalik sifatnya yang krtis dan pluralis, dia adalah seorang yang hobi menonton film, mendaki gunung, membaca, dan menulis artikel, yang tulisannya sering dimuat di berbagai surat kabar dan sering kali membuat siapa yang membacanya terpengaruh akan ide dan gagasannya.

            Ketika beranjak menjadi mahasiswa, saat semua orang disibukkan oleh organisasi,  Gie tidak terlalu di sbukkan olehnya, dia asyik dengan hobinya yaitu menonton film dan mendaki gunung, padahal di kampus, di dikenal sebagai orang yang aktif dalam melancarkan berbagai aspirasi, gugatan dan pendapat mengenai kondisi negara  yang semakin kacau ini, namun ia hanya seorang demonstran yang tidak menduduki posisi penting di suatu organisasi.Dan itu tidak lantas membuatnya diam saja.
 Gie terus melancarkan aspirasi, gugatan dan pemikirannya, bagi dia hanya itu yang sementara dapat melakukan perubahan dalam memperbaiki kondisi Negara yang semakin kacau, dan dia tidak sendirian dalam berjuang, banyak orang-orang yang respon terhadap pemikirannya, menanggap positif segala pendapatnya, yang membuatnya menjadi sosok yang berpengaruh dalam menuju perubahan bangsa ini.
Dia adalah pemuda yang menganggap politik sebagai idealisme, berbeda dengan mereka yang menganggap politik sebagai alat atau sarana dalam memperoleh harta dan kekuasaan, pantaslah di sebut sebagai politik kotor, tidak mempedulikan bagaimana kondisi rakyat yang semakin melarat.

            Sampai pada suatu saat, ia bertemu dengan Han, teman akrab masa kecilnya dulu, ironisnya, ternyata Han adalah seorang yang terikat dengan PKI, dan dia mengajak Gie untuk bergabung dengannya, tapi Gie menolak, baginya semua organisasi dan gerakan membawa pada kebaikan dan perubahan, tapi tidak untuk komunisme.Ia menganjurkan Han untuk menjauhi dan meninggalkan PKI, tapi itu tak di gubris olehnya.Padahal, salah satu bentuk kehancuran yang melanda bangsa ini disebabkan oleh organisasi tersebut.Organisai yang tidak mengakui adanya tuhan ini, kerap meresahkan rakyat, dan melakukan pemberontakan dimana-mana.

            PKI adalah organisasi yang didirikan pada tahun 1920, adalah organisasi yang dalam menghadapi pemerintah colonial belanda dan fasisme jepang merupakan salah satu diantara kekuatan yang bersikap paling konsekwen, dan setelah tahun 1949, PKI merupakan kekuatan yang aktif dalam menentang hasil-hasil konferensi meja bundar, PKI juga memberikan sumbangan yang penting dalam perjuangan nasional melawan gerakan-gerakan separatis kontra revolusioner.Karena perjuangan nasional melawan gerakan kontra revolusioner inilah yang menyebabkan banyak anggota PKI beserta simpatisan-simpatisannya ditangkap dan dieksekusi.Singkatnya, sejarah PKI adalah sejarah panjang perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme, membuatnya semakin banyak orang yang mendukungnya, mendapat simpati dari rakyat, salah satunya Han, baginya hanya PKI lah yang mqmpu memberantas segala bentuk ketidakadilan dan kehancuran negeri ini.

            DI balik sisi baik PKI dalam melakukan perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme, PKI adalah organisasi yang arogan, bahkan dikenal sebagai organisasi yang sadis.Didapati dalam suatu dokumen yang didalamnya menjelaskan bahwa PKI akan menempuh segala jalan, baik atau buruk untuk mencapai dan memenangkan tujuannya.Dan ironisnya, tiap-tiap rintangan yang menghambat atau mencoba menghalangi tujuan PKI harus di lenyapkan.Idealisme itulah yang membuat PKI organisasi yang harus dimusnahkan.Puncaknya pada tanggal 30 september 1965, hak-hak PKI mulai dibatasi, dan mulai dikucilkan oleh pemerintah pada saat itu, maka PKI mulai melakukan pemberontakan dengan menculik para perwira tinggi, para jenderal, lalu membunuhnya secara sadis, yang dikenal sebagai G30/SPKI.

           
Gie adalah salah satu tokoh yang sangat menyoroti tragedy G30/S/PKI, tragedy yang sangat memilukan dalam sejarah kelam bangsa Indonesia.Tapi tidak demikian halnya dengan mengungkapkan reaksi balik yang tidak kalah biadapnya dari gerakan 30 September 1965 yang menimpa orang dituduh anggota dan simpatisan PKI.Pembantaian, pemberangusan, penghilangan lawan politik yang sungguh biadap dan diliar batas-batas kemanusiaan.


            Setelah peristiwa mengenaskan itu, semua antek-antek PKI diburu dan ditangkap untuk dieksekusi, dan setelah peristiwa itu pula letnan jenderal Soeharto atas nama presiden/panglima besar ABRI/mandataris MPRS/pemimpin besar revolusi telah mengeluarkan surat keputusan tanggal 12 maret 1966 tentang pembubaran PKI, termasuk  semua bagian-bagian organisasinya, serta semua organisasi yang berlindung di bawahnya, dinyatakan bahwa PKI adalah organisasi yang terlarang.

            Tidak lama setelah itu pemerintahan Soekarno jatuh ke tangan Soeharto, setelah itu Soeharto menandatangani surat perintah sebelas maret, yang disebut sebagai supersemar. Tapi bagi Gie itu tidak berarti apa-apa, tidak membawa perubahan yang berarti bagi negeri ini Gie saat itu menganggap pemerintah Soeharto yang baru dibentuk merupakan antitesis dari pemerintahan Soekarno yang korup dan tidak berpijak pada realitas. Pemerintah Soekarno dan Soeharto memiliki cita-cita yang sama besarnya dalam mensejahterakan rakyat. Namun caranya berbeda. Dan disinilah subjektivitas Gie muncul.”jauh lebih mudah membuat sebuah monument dengan emas di puncaknya daripada membuat dan memperbaiki 1.000 kilometer jalan raya,” katanya menyinggung proyek monument nasional yang dibangun di zaman pemerintahan Soekarno.

            Gie menulis kritik-kritik yang keras di Koran-koran, bahkan kadang-kadang menyebut nama.Dia pernah mendapatkan surat-surat kaleng yang isinya memaki dan memojokkan dia, antara lain “Cina yang tidak tahu iri, sebaiknya pulang ke negerimu saja sana!” . Ibu Gie gelisah dan berkata “Gie, untuk apa semua ini? Kamu hanya mencari musuh saja, bukan mencari uang!”. Terhadap ibunya Gie hanya tersenyum dan berkata “ Ah, mama tidak mengerti”.

            Gie pernah berkata pada Arief, kakaknya, “akhir-akhir ini saya selalu berpikir, apa gunanya semua yang saya lakukan ini. Saya menulis, melakukan kritik kepada banyak orang yang saya anggap tidak benar. Makin lama, makin banyak musuh saya, dan semakin sedikit orang yang sependapat dengan saya, dan kritik yang saya lancarkan tidak mengubah keadaan. Jadi apa sebenarnya yang saya lakukan? Saya ingin menolong rakyat kecil yang tertindas, tapi kalau keadaan tidak berubah, apa gunanya kritik saya? Kadang-kadang saya merasa sangat kesepian.

           
            Dalam suasana inilah Gie meninggalkan Jakarta untuk pergi ke gunung semeru.Di puncak gunung tersebut, Gie meninggal pada tanggal 16 desember 1969.Salah satu fatwa yang pernah dikatakannya adalah “lebih baik diasingkan, daripada menyerah pada kemunafikan”, belajar dari seorang Gie yang perjuangannya dapat dikenang sepanjang masa, yang semangatnya harus dimiliki seiap pemuda bangsa yang cinta akan keadilan dan keharmonisan, yang senantiasa berkorban untuk Negara dan rakyatnya, demi mencapai Indonesia yang aman, nyaman, teratur, dan sejahtera.


AKIBAT PENGARUH BURUKNYA DEMOKRASI DALAM PEMILU 2009 TERHADAP PERTUMBUHAN SISTEM DEMOKRASI di INDONESIA



 
Dalam proses demokratisasi partai politik memiliki peran yang sangat penting, karena selain sebagai stuktur kelembagaan politik, mereka juga merupakan wadah penampung aspirasi rakyat. Pemilu sebagai proses domokrasi yang sistematis dan  merupakan sebuah sarana untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dalam pemerintahan negara. Pemilu adalah pesta demokrasi terbesar. Demokrasi sebagai proses politik dapat memuat muatan-muatan lokal sesuai area yang melingkarinya (seperti pengalaman politik dan definisi orang-orang yang duduk dalam pemerintahan). Karena itu, tidak pernah ada sistem demokrasi ideal yang pernah terwujud.. Seperti halnya yang terlihat pada pemilu 2009 ini terdapat banyak sekali cacat demokrasi dalam pelaksanaan. BAGI bangsa yang modern dan beradab, Pemilihan Umum (Pemilu) yang bebas dan bersih adalah mekanisme menentukan kepemimpinan politik dari waktu ke waktu. Di Indonesia kita baru saja mengalami Pemilu ketiga setelah runtuhnya Orde Baru yang memerintah secara otoriter selama 32 tahun.Pernyataan Sikap Dewan Perubahan Nasional dan Pergerakan Kaum Muda, di Jakarta, 12 April 2009.
Sistem Multi partai kemudian dipilih menjadi sistem demokrasi yang tepat untuk negara kita yang plural dan multikultur.Indonesia diakui sebagai negara yang berhasil melakukan sistem multipartai, termasuk melakukan Pemilu secara demokratis. Sayangnya, kualitas Pemilu 2009 ini menurun, menunjukkan cacat dan kelengahan sistem multi partai tersebut.Jika pada dua Pemilu sebelumnya antusiasme masyarakat terlihat tinggi mengikuti Pemilu, tidak demikian halnya Pemilu 2009 ini. Jumlah orang yang tidak memilih sangat tinggi, mungkin yang tertinggi dalam sejarah Pemilu Indonesia.
Untuk menjamin demokrasi, Pemilu dan Partai politik (Parpol) harus menjamin proses yang adil dan transparan, bukan hanya berujung pada hasil siapa menang siapa kalah. Sayangnya, saat ini orang hanya berorientasi rujukan hasil survey dengan tidak memperhatikan bagaimana proses pemilu ini berlangsung dengan lancar dan baik. Sungguh memprihatinkan.Menurut banyak sumber dan masukan yang kami peroleh, Pemilu kali ini juga terburuk dibanding dua pemilu sebelumnya. Kami mencatat ada beberapa cacat dalam penyelenggaraan Pemilu 9 April 2009.
 
Beberapa cacat demokrasi pada pemilu 2009 :
·         Cacat demokrasi yang paling fatal adalah terdapat pada landasan konsepsinya sendiri. Prinsip kedaulatan di tangan rakyat yang diwujudkan dalam suara terbanyak. Prinsip mayoritas ini amat rentan tatkala penguasa atau sekelompok orang dapat merekayasa masyarakat melalui propaganda, Money Politic, tindak persuasif hingga represif agar mendukungnya. Dengan propaganda terus-menerus rakyat dapat menganggap surga adalah neraka, dan neraka adalah surga, benar jadi salah, salah jadi benar, begitu seterusnya seperti yang ditunjukkan Adolf Hitler dalam “Mein Kampf”. Sisi lain yang perlu dicatat bahwa rakyat sendiri adalah individu yang tak lepas dari tarikan hawa nafsu dan godaan setan. Timbangan baik buruk yang diserahkan pada rakyat adalah sebuah kekacaubalauan.
·         sistem muti partai
Sistem multi partai ini adalah suatu perwujudan dan implementasi proses demokratisasi. Melalui sistem multi partai banyak yang mempunyai kesempatan untuk menduduki kursi pemerintahan. Tetapi sistem multi partai ini juga menimbulkan banyak cela demokrasi. Munculnya banyak partai ini manimbulkan banyak sekali masalah dalam pelaksanaan pemilu. Masalah-masalah yang timbul dalam pemillu 2009 antara lain, sebagai berikut : 
*                  Resiko golput dalam Pemilu 2009 ini cukup signifikan.
*                  Biaya politik di Indonesia yang sangat mahal. Dimana para caleg harus mengeluarkan banyak sekali pengorbanan untuk biaya kampanye, dan ketika pengorbanan yang mereka lakukan sia-sia karena dalam pemilu tidak bisa lolos dengan suara signifikan maka para politisi tersebur bisa melampiaskan kekecewaannya yang akan berpotensi terjadinya konflik.
*                  Hasil kerja KPU yang awut-awutan. Sampai ada LSM yang menganugerahi KPU dengan award “penyelenggara Pemilu terburuk” selama era Reformasi. Masalah DPT, jadwal kampanye, kesalahan cetak nama caleg dan nomernya, urusan logistik Pemilu, dll.
*                  Banyaknya lembaga survey independen dan media-media massa yang melakukan quick count (penghitungan cepat) hasil-hasil Pemilu yang kadang di-update menit per menit. Secara emosional quick count itu bisa memacu adrenalin para pendukung partai-partai bersangkutan.
*                  Kerasnya konstelasi politik dalam memperebutkan posisi  RI I. Meskipun Pilpres masih lama, tetapi ajakan koalisi, mengelus-elus calon Presiden sudah dilakukan jauh-jauh hari. Pihak yang sekarang sedang berkuasa bekerja keras mempertahankan posisinya, sementara para penantangnya juga tak kalah kerasnya dalam usaha ingin mendongkelnya dari kursi kekuasaan itu.[1]

*      Cacat Teknis Manajemen, yang menyebabkan hilangnya jutaan hak konstitusional rakyat Indonesia. Ini terkait dengan buruknya penyusunan Daftar Pemilih Tetap (DPT), serta kacaunya logistik surat suara, temasuk kasus tertukarnya surat suara, tapi tetap disahkan KPU.
*       Cacat Determinasi Politik. Pemerintah berkuasa terkesan melakukan pembiaran terhadap kekacauan proses Pemilu yang melanggar prinsip-prinsip demokrasi serta prinsip Pemilu yang jujur dan adil. Ini sudah terlihat sejak usulan draft UU Pemilu dimana Pemerintah mengusulkan data DPT diambil dari data Departemen Dalam Negeri. Selanjutnya, tak ada proses
pembersihan data tersebut oleh KPU bersama Departemen Dalam Negeri.
*       Kelengahan Parpol peserta Pemilu 2009, yang tak melakukan pegecekan terhadap data DPT sejak dini, padahal waktu yang tersedia cukup panjang
 
Akibat buruknya demokrasi pada pemilu 2009 dalam pertumbuhan demokrasi di indonesia :
 
 
·           Rakyat tidak memahami arti dari demokrasi itu sendiri,hilangnya rasa kepedulian terhadap Negara sendiri,rakyat lebih mementingkan dirinya sendiri,ketimbang negaranya,pragmatisme muncul dan berkembang dimana-mana,sehingga berpotensi untuk mematikan fungsi demokrasi dan sistem pemerintahan yang adil, jujur, dan bersih di indonesia.
·          Akibat dari sistem multi partai  adalah muncul banyak sekali partai-partai baru. Setiap orang yang memiliki komunitas, perkumpulan, akan membuat suatu partai sendiri.masyarakat tidak lagi mementingkan esensi dari partai itu sendiri, hilangnya ideology kepartaian, yang timbul adalah paham pragmatis terhadap kelompok atau golongannya sendiri.dengan mudahnya mereka mendirikan sebuah partai tanpa adanya esensi yang mapan dan tepat untuk mengatasi permasalahan Negara ini, sehingga yang muncul adalah kesemrawutan dan ketidakteraturan dalam berpolitik, terkesan berlomba-lomba dalam memperebutkan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara, sehingga berpotensi menimbulkan konflik dan anarkhisme.
·         Dengan fakta-fakta diatas, kami menilai Pemilu legislatif ini mempunyai cacat yang serius. Akibatnya, proses demokrasi yang sedang dibangun di negeri ini mengalami kemunduran serta berpotensi mengancam Pilpres 2009.
Teori Pertukaran menurut George C Homans
 Teori pertukaran yang dikemukakan George C Homans, memiliki asumsi dasar yaitu Cost dan Reward. Yaitu dimana ada sesuatu yang dikeluarkan, maka akan mendapatkan imbalan atau respon balik dari apa yang telah di keluarkan atau dikorbankan. Teori pertukaran yang di kemukakan George Homans lebih mengarah antara individu dengan individu. Dalam menjelaskan teori pertukaran ini, Homans membagin ya ke dalam proposisi – proposisi, diantaranya adalah :  

a. Proposisi Kejenuhan
Proposisi ini berbunyi : “Makin sering seseorang menerima hadiah khusus di masa lalu yang dekat, makin kurang bernilai baginya setiap unit hadiah berikutnya”
“implikasinya terhadap pemilu di indonesia adalah bahwa rakyat akan cenderung jenuh  dan bosan terhadap system perpolitikan di indonesia, rakyat sudah bosan dan tidak percaya lagi kepada janji-janji para wakil rakyat yang tak pernah terpenuhi, sudah bosan dengan kondisi politik yang semakin tidak jelas dan tidak karuan ini, yang mengakibatkan kerugian pada rakyat, akibatnya rakyat hanya memikirkan keuntungan mereka sendiri, partisipasi mereka pada pemilu hanya sebatas pragmatisme terhadap dirinya atau kelompok dan golongannya.yang berimpas pada rusaknya sistem demokrasi dan pemerintahan yang adil, jujur, teratur bersih dan sejahtera di indonesia.”

b. Proposisi Persetujuan dan Agresi
 Proposisi Persetujuan ini berbunyi : "Apabila seseorang mendapatkan ganjaran yang lebih besar daripada yang diharapkannya, atau tidak mendapatkan hukuman yang diperhitungkannya, maka ia akan menjadi senang; lebih besar kemungkinannya ia akan melakukan hal-hal yang positif dan hasilnya dari tingkah laku yang demikian adalah lebih bernilai baginya.” Dan proposisi agresi berbunyi : “ Bila tindakan seseorang tidak memperoleh ganjaran seperti yang diharapkannya atau mendapatkan hukuman yang diharapkannya, maka semakin besar kemungkinan bahwa dia menjadi marah dan melakukan tindakan yang agresif dan tindakan agresif itu menjadi bernilai baginya.”
                        “Implikasinya terhadap kondisi politik dan pemilu di indonesia adalah, masyarakat kecewa dan marah karena keinginan mereka tidak terpenuhi, padahal mereka sudah memperjuangkannya dengan kerja keras dan susah payah, kondisi seperti ini berpotensi mengakibatkan konflik dan anarkhisme.”

Selasa, 11 Oktober 2011

POSITIVISME


Merupakan suatu paham atau ajaran yang dipopulerkan oleh Auguste Comte, bahwa hanya fakta atau hal-hal yang nyata saja yang dapat ditinjau dan diuji, melandasi pengetahuan yang sah dan ilmiah, jauh dari nilai-nilai yang bersifat supranatural,mistik,horror dan semacamnya.Positivisme menerima dengan sepenuhnya dunia imiah dan segala macam ilmu atau apa saja yang dilandaskan atas hukum-hukum alam.Positivisme tidak mengakui atau menganggap rendah hal-hal yang berbau mistik, supranatural,jauh dari nalar,di luar empiris dan sensual manusia.
Bertolak dari hukum-hukum ilmiah, positivisme menekankan bahwa objek yang akan di kaji harus berupa fakta, dan kajian atau penelitian harus mengarah kepada kepastian dan kecermatan.Penelitian berusaha untuk mencapai kebenaran atau menemukan teori-teori ilmiah.Penelitian dalam konteks ini dapat dipahami sebagai proses epistimologi untuk mencapai kebenaran, dan bahwa sumber kebenaran semata-mata hanya berasal dari realitas-empiris-sensual.
            Positivisme menganggap bahwa masyarakat adalah bagian dari alam, dan bukan dari dunia lain yang jauh dari nalar dan realita yang ada, dan bahwa metode-metode penelitian empiris dapat digunakan untuk menemukan hukum-hukumnya.Positivisme bertekad mencampurkan tradisi-tradisi irasional,dan memperbaiki masyarakat menurut hukum-hukum alam agar lebih rasional.
            Hasil yang ingin dicapai oleh positivisme adalah suatu masyarakat, yang dimana penalaran akal budi akan menghasilkan kerjasama dan takhayul, ketakutan, kebodohan, paksaan dan konflik dilenyapkan.
Walupun begitu, positivism mempunyai beberapa kelemahan, antara lain:
-          Positivisme cenderung mengabaikan pencarian makna di balik empiris sensual, sehingga hasil-hasil penelitian menjadi kehilangan makna
-          Positivisme terlalu mengunggulkan fakta fragmentatif, sehingga kehilangan konteks sosio-kultural hasil-hasil penelitian
-          Positivisme bersifat reduksionis karena hanya mengakui fakta empiris yang sensual, padahal di samping hal yang sensual masih terdapat empiri logic, teoritik, dan etik.

Gerakan sosial dan perubahan sosial


Perbedaan perubahan sosial dan gerakan sosial
Pembahasan atas isu mengenai gerakan sosial menunjukkan bahwa terdapat kebutuhan untuk menetapkan sebuah pemisahan analitis antara konseps-konseps perubahan sosial dan gerakan sosial.
Penerapan prinsip-prinsip klasifikatoris persamaan (resemblance) dan pembedaan (difference) digunakan untuk memetakan suatu pemisahan analitis diantara kedua konsep tersebut. Terdapat  empat poin yang membedakan antara gerakan sosial dan perubahan sosial
1.      Ide perubahan sosial merupakan syarat yang serba menetukan, yang terus ada dan yang mencakup segalanya dari realitas sosial, sedangkan di sisi lain, konsep-konsep gerakan sosial dan aksi sosial kolektif bukanlah sebuah fenomena yang serba menetukan dari masyarakat.
2.      Manifestasi, pematangan, rutinitas, dan bahkan kegagalan dan kematian dari sebuah gerakan sosial bisa di deskripsikan dan digambarkan sebagaimana kita mendeskripsikan dan menggambarkan sebuah biografi kehidupan. Di sisi lain, perubahan sosial tidak bisa dideskripsikan dengan kepastian dan kemudahan yang sama dalam kerangka batas-batas temporal sebuah biografi atau karir. Seperti konsep waktu, perubahan sosial merupakan sesuatu yg terus berlangsung disadari maupun tanpa disadari.
3.      Perubahan sosial tidak selalu merupakan ekspresi dari perjuangan dan upaya sadar oleh masyarakat, sungguh-sungguh dan sengaja dari voluntarisme insani. Kebanyakan gerakan sosial mengekspresikan dan menunjuk pada sebuah arus deras cita-cita dan aktifitas yang relative terencana dan terkonsentrasi dari sebuah kolektifitas yang relative terorganisir.
4.      Apa yang membedakan focus gerakan sosial dengan focus perubahan sosial ialah bahwa yang pertama selalu dan tanpa kecuali menegaskan atau memajukan beberapa tujuan sosial jangka pendek tertentu, sedangkan perubahan sosial tidak bisa memiliki elemen penegasan atas beberapa tipe tujuan jangka panjang atau jangka pendek tertentu.
Universalisme gerakan-gerakan sosial
Konsepsi gerakan sosial terkait dengan konsepsi masyarakat. Dua konsepsi tersebut merupakan rupa dari realitas yang sama. Universalitas keberadaan masyarakat mengandaikan universalitas keberadaan dari gerakan sosial yang menyuarakan klaim dan perjuangan orang-orang dalam masyarakat.
 
Relativisme dalam gerakan sosial
Gerakan sosial biasanya bersifat spesifik sesuai kultur, sejarah, dan struktur sosialnya.
 
Ide mengenai optimism sosial dalam grakan sosial
Gerakan sosial menjadi contoh dalam hal ini, dengan menggabungkan dan menyatukan cita-cita, harapan, dan hasrat kolektif dari sebuah masyarakat, kelompok-kelompok atau subkelompok dalam masyarakat.
 
Pembaharuan sosial,aktualisasi diri dan gerakan sosial
Gerakan sosial menggunakan dan mencerminkan metode-metode dan strategi-strategi masyarakat untuk memperbaharui diri dan meregenerasi diri melalui aksi kolektif.  Kenyataannya, gerakan sosial merupakan tempat kelahiran sekaligus konteks produksi dan reproduksi masyarakat.
erakan sosial virtual...Mungkin banyak orang akan menganggap jejaring pertemanan semacam friendster, facebook, dan twitter sekadar tempat untuk mengisi waktu senggang, iseng-iseng, paling banter adalah media mencari teman baru, syukur-syukur berjodoh. Namun agaknya kita mesti berpikir ulang dengan melihat fenomena yang ada, bahwa facebook misalnya, memiliki potensi sebagai sebuah gerakan sosial, yang tentu jelas berbeda dari bentuk gerakan sosial baru (new social movement) yang ada selama ini. Lebih dari itu, bahkan mau tidak mau kita memang mesti menggali lebih dalam semua potensi dunia maya, termasuk jejaring pertemanan semacam facebook ini, sebagai upaya untuk menjajagi kemungkinan formulasi baru gerakan sosial di tengah “kebuntuan” gerakan sosial baru pada rutinitasnya selama ini.
Hal ini karena, mesti diakui bahwa internet dengan dunia maya yang dibentuknya telah menjadi satu sisi kehidupan sosial dari warga masyarakat dunia sekarang ini. Dunia maya (cyberworld) yang terbentuk tersebut kemudian melahirkan komunitas-komunitas kecil yang analog dengan negara atau komunitas pada dunia sosial riil, yang di dalamnya terdapat warga negara (baca: warga komunitas), namun dengan aturan hukum, norma, nilai budaya, dan interaksi sosial yang berbeda. Di sinilah timbul berbagai bentuk penyakit sosial baru yang dalam banyak hal direplikasi pada dunia sosial riil, yang dengan demikian semakin menambah penyakit sosial (baca: kejahatan, teror, diskriminasi, dan lainnya) di dunia sosial riil. Bahkan dunia maya pun menjadi media bertumbuhnya kejahatan, ketidakadilan, diskriminasi.Gerakan sosial virtual dengan demikian mesti “mereplikasi” diri dalam dunia sosial riil. Jejaring pertemanan dan forum-forum di dunia maya menjadi sarana perang wacana dan mobilisasi dari gerakan sosial baru di dunia sosial riil. Dan selanjutnya adalah “replikasi” atau bertransformasi dalam gerakan sosial riil.
    Gerakan sosial keagamaan yang bertujuan menegakkan syariat Islam di Indonesia telah berlangsung lama. Akhir era 1960-an, sejumlah tokoh organisasi Islam menaruh harapan besar agar pemerintah Orde Baru mau dan mampu memfasilitasi pergerakan Islam.  Harapan tersebut wajar saja,  sebab mereka memang menjadi bagian penting dari kekuatan-kekuatan politik penting saat itu.  Bentuk-bentuk gerakan sosial yang dikembangkan ketika itu kemudian bergeser dari semula lebih kental dengan nuansa politik (terutama membentuk negara Islam) menjadi gerakan kultural yang lebih mengedapankan usaha menciptakan kehidupan menjadi lebih Islami, dan mendorong masyarakat supaya beribadah lebih kafah.
Gerakan mahasiswa di Indonesia adalah kegiatan kemahasiswaan yang ada di dalam maupun di luar perguruan tinggi yang dilakukan untuk meningkatkan kecakapan, intelektualitas dan kemampuan kepemimpinan para aktivis yang terlibat di dalamnya.
Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, gerakan mahasiswa seringkali menjadi cikal bakal perjuangan nasional, seperti yang tampak dalam lembaran sejarah bangsa.karena peran gerakan mahasiswa tersebut sebagai pelopor dan penggerak dalam membela rakyat dari berbagai tirani dan segala bentuk ketimpangan yang terjadi di Indonesia. Mahasiswa dan gerakannya yang senantiasa mengusung panji-panji keadilan, kejujuran, selalu hadir dengan ketegasan dan keberanian. Walaupun memang tak bisa dipungkiri, faktor pemihakan terhadap ideologi tertentu turut pula mewarnai aktifitas politik mahasiswa yang telah memberikan kontribusinya yang tak kalah besar dari kekuatan politik lainnya. Mahasiswa yang merupakan sosok pertengahan dalam masyarakat yang masih idealis namun pada realitasnya terkadang harus keluar dari idealitasnya. Pemihakan terhadap ideologi tertentu dalam gerakan mahasiswa memang tak bisa dihindari. Pasalnya, pada diri mahasiswa terdapat sifat-sifat intelektualitas dalam berpikir dan bertanya segala sesuatunya secara kritis dan merdeka serta berani menyatakan kebenaran apa adanya. Sebuah konsep yang cukup ideal bagi sebuah pergerakan mahasiswa walau tak jarang pemihakan-pemihakan tersebut tidak pada tempatnya.
gerakan sosial frontal,adalah suatu gerakan yg langsung menunjukkan aksi perlawanan,tanpa perundingan,tanpa basa basi,tanpa pemi9kiran yg lebih panjang dan matang,yakni suatu gerakan yg menuntut suatu perubahan dengan cepat sesuai dng yg mereka inginkan,karena mereka menganggap hanya dng cara inilah perubahan bisa dicapai dan diwujudkan,yakni dng cara kekerasan,demonstrasi,aksi2 anarkis di lapangan..gerakan ini juga bisa diakibatkan karna massa sudah muak dan tidak tahan dng keadaan yg ada,tadak mungkin dicapai melalui perundingan,karna kputusan pmerintah yg tdk berpihak pada mereka,spt contoh kerusuhan yg trjadi di priuk,ttg sengketa hak milik tanah yg berujung bentrok besar massa dan aparat.



KONFLIK KOMUNAL di INDONESIA


 Yang pertama terjadi di kabupaten Sambas. Kalimantan Barat. Itu terjadi pada bulan Januari dan Februari 1997. Koran-koran memberitakan bahwa penduduk asli dayak  mulai menyerang pendatang Madura di rumah-rumah mereka di kota kecil sanggau ledo, kemudian bergerak ke kota-kota kecil di sekitar kabupaten itu, sehingga membuat puluhan ribu orang lari menyelamatkan diri. Masyarakat Indonesia tersentak. Kekerasan kolektif antar warga Indonesia mengenai identitas komunal belum pernah terjadi sebelumnya. Atau lebih tepat lagi, hal itu tidak membekas dalam kesadaran public sampai sehebat itu, sebab pada bulan-bulan sebelumnya telah terjadi huru-hara dengan sasaran orang-orang Kristen dan cina di jawa. Yang satu ini terjadi dengan skala yang jauh lebih besar. Kekerasan sepihak itu berlangsung selama berminggu-minggu, dan merambah sampai ke beberapa kabupaten.
Pertumpahan darah itu sendiri sudah sangat meresahkan, tetapi ada hal yang lebih menggelisahkan. Kejadian itu sangat tidak terduga. Hal itu membuat rata-rata pikiran masyarakat Indonesia terperangah, karena mereka tidak memiliki penjelasan sama sekali. Masyarakat Indonesia sudah lama mengenal kekerasan di tiga tempat yang terpencil di Negeri mereka, aceh, papua dan timor timur. Meskipun sebagian besar tertutup bagi para wartawan, masyarakat tahu bahwa sentiment pemisahan diri menjadi pendorong gerakan resistensi gerilya di sana, dan bahwa militer Indonesia telah membunuh banyak orang dalam operasi-operasi penumpasan pemberontakan tersebut. Negara sebagai sumber kekerasan: ini mudah dipahami bagi pejabat-pejabat rezim maupun para aktivis hak-hak asasi manusia.
Dua tahun setelah peristiwa Sambas, pecah pertempuran antara orang-orang muslim dan orang Kristen di Ambon, pusat urban terbesar di timur makasar. Ini jauh lebih menyakitkan bagi public Indonesia. Dahulu Ambon adalah kota pelabuhan yang ramai dan tidak dapat dibayangkan berubah menjadi medan pertempuran. Terlebih lagi, ini adalah era Reformasi. Presiden Soeharto telah mengundurkan diri pada bulan mei sebelumnya di tengah-tengah demonstrasi besar-besaran. Hari demi hari dipenuhi dengan pembaharuan-pembaharuan di setiap sector. Peristiwa Ambon adalah pukulan terberat bagi optimism yang mengikuti berakhirnya Orde baru yang otoriter. Peristiwa itu juga bukan disebabkan oleh sesuatu kebudayaan kesukuan yang primitive. Sebagaimana banyak orang ibu kota memandang orang-orang Dayak dengan perasaan benci, melainkan melibatkan dua agama yang sama-sama di anut oleh masyarakat Indonesia. Meskipun begitu, kolom-kolom opini tidak menyodorkan banyak jawaban yang demokratis, meskipun opini-opini yang tidak demokratis tumbuh menjamur dalam pers sectarian.
Pada saat yang hampir bersamaan, akhir tahun 1998 dan awal 1999, pertempuran komunal juga meledak di dua tempat yang berbeda. Di kabupaten Sambas, Kalimantan barat, kekerasan kembali meletus, di daerah yang agak berbeda tetapi sekali lagi mengakibatkan penggusuran terhadap orang-orang Madura, kali ini dipicu oleh penduduk asli melayu. Dan di poso, sebuah kota kecil di Kalimantan tengah, kekerasan meledak antara orang-orang muslim dan Kristen. Kabar buruk itu tak berhenti sampai disitu. Setahun kemudian, pada akhir 1999, ketegangan yang memuncak meledak di Maluku utara yang melibatkan berbagai macam medan, antara muslim dengan keisten, dan antara muslim dengan muslim yang lainnya. Kemudian kekerasan terjadi di Kalimantan tengah dengan pola yang mirip dengan Kalimantan barat. Penduduk asli dayak memnyerang para pendatang Madura di kota pelabuhan sampit pada bulan februari 2001, kemudian bergerak ke seantero provinsi sambil mengusiri orang-orang Madura.
Lalu peristiwa konflik di Solo. Sebelum terjadinya peristiwa kerusuhan di solo, tercatat puluhan konflik melanda kota bengawan tersebut. Disebutkan dari sejak jaman “geger pecinan” atau robohnya keraton kartasura sampai tejadinya kerusuhan mei pada tahun 1998. Solo sebenarnya merupakan salah satu kota pedalaman Jawa yang relatif maju. Benturan politik, salah satu faktor utama, telah muncul sejak abad ke-16, yakni pada masa Sultan Pajang, Mataram. Konflik itu terjadi antara kelompok pribumi dan Cina menyangkut penguasaan tanah perkebunan. Pada era kolonial, konflik makin banyak terjadi karena Solo merupakan pertemuan pasukan kerajaan (dan kolonial) dengan pemberontak. Semua pemberontakan dalam Kerajaan Mataram berawal dari Solo, termasuk misalnya pemberontakan Diponegoro. Entah kenapa kota solo tampaknya selalu menjadi pelopor gerakan anti etnis cina sejak berabad yang lalu. Kota solo yang selalu dikenang dengan bermartabatnya serta kehalusan yang dimiliki masyarakat solo sebagai salah satu pusat kebudayaan jawa, ternyata memiliki sejarah yang agak kelam. Sebuah peristiwa kerusuhan yang sangat besar pun mampu terjadi di solo. Seolah-olah solo menjadi ladang sebuah radikalisasi.
Pada hari Kamis pada tanggal 14 Mei 1998, ribuan mahasiswa UMS menggelar demo keprihatinan atas tewasnya Mozes dan tragedi Trisakti. Kekerasan terjadi setelah ada batu melayang kearah demonstran disusul dengan terjadinya hujan batu. Ribuan demonstran akhirnya berlari mundur ke kampus UMS. Smentara yang lainnya membalas lontaran gas air mata dengan lemparan batu. Bentrokan akhirnya tidak dapat dihindarkan lagi. Dua mahasiswa anggota tim negosiasi yang tak ikut lari ke kampus akhirnya menjadi bulan-bulanan oleh sejumlah oknum aparat keamanan. Puncak kemarahan massa terjadi saat insiden aparat menginjak-injak seorang demonstran yang tergeletak tak berdaya ditengah jalan. Massa berteriak mengecam tindakan itu. Itulah awal mula kejadian peristiwa kerusuhan mei kelabu yang menghancurkan dan menghanguskan kota solo. Kepulan asap hitam menyelimuti ruang kota. Si jago merah melalap puluhan bangunan kokoh pusat perbelanjaan. Pemilik toko panik histeris. Mereka tak bisa menyelamatkan harta benda, justru yang “menyelamatkan” adalah penjarah. Bunyi sirine kendaraan militer meraung-raung menghalau perusuh. Suasana benar-benar mencekam. Sementara warga kampung berwajah tegang berjaga-jaga di mulut gang. Seperti pada waktu-waktu lalu, etnis Cina menjadi korban empuk kerusuhan.
Dari fenomena-fenomena yang nampak pada berbagai kerusuhan, perusakan, penjarahan, pembakaran rumah-rumah, toko-toko dan perusahaan-perusahaan selalu dialamatkan pada milik etnis keturunan Cina. Dari sekian etnis yang ada di kota-kota di Indonesia khususnya Jawa Tengah, etnis keturunan Cina-lah yang sering menjadi sasaran amuk massa dari warga pribumi. Tragedi yang terakhir adalah tanggal 13 – 15 Mei 1998, di mana kota Jakarta dan Surakarta terjadi kerusuhan, penjarahan, pengrusakan dan pembakaran rumah, toko, mobil perusahaan yang hampir seluruhnya milik warga etnis keturunan Cina.
 
Setiap konflik komunal memakan banyak korban ratusan atau ribuan orang mati dan puluhan atau ratusan tergusur. Setiap konflik menyebar luas antara seantero kabupaten atau seantero provinsi. Dan tiap-tiap konflik bersifat komunal antara kelompok-kelompok dalam masyarakat mengikuti garis-garis asal usul etnis atau agama, tidak secara eksplisit tentang kelas, dan tidak menentang Negara. Kekerasan komunal menuntut korban lebih besar daripada kekerasan tipe lain manapun dalam periode itu melebihi kekerasan pemisahan diri, melebihi pula kekerasan sosial, jauh lebih besar daripada huru-hara lokasi tunggal local dari tahun-tahun terakhir orde baru.
Yang membedakan kekerasan pasca orde baru adalah bahwa masalah-masalah kelas dan bangsa indonesia praktis tidak ada dan pertarungan hampir sepenuhnya berdasarkan identitas-identitas komunal. Inilah yang mengguncang public Indonesia, yang sebelumnya percaya betul bahwa menjadi orang Indonesia tidak banyak berkaitan dengan etnisitas atau agama. Kesimpulan apa yang bisa kita ambil dari pemaparan diatas? Yakni tentang konflik komunal, wacana public Indonesia beredar di seputar istilah “disintegrasi”. Istilah it uterus di dengung dengungkan selama masa itu, tetapi kemudian mengabur menjelang akhir 2001. Pada waktu itu sebagian besar dari pertarungan komunal itu telah berakhir, dan seorang presiden baru telah dipilih, yaitu Megawati Soekarno Putri, yang luas di pandang sebagai pemimpin yang akan memulihkan ketertiban. Istilah itu tidak hanya mengisyaratkan bahwa kesepakatan politis yang disebut Indonesia itu tengah berantakan, tetapi begitu pula ikatan-ikatan sosial biasa diantara orang-orang yang saling bertetangga. Istilah lain yang ditemui adalah “pancasila”, ideology semi sekuler yang agak banal dan yang sering didengung-dengungkan oleh orde baru. Frekuensinya menurun secara drastic setelah tahun 1998, yang mengisyaratkan adanya krisis dalam nasionalisme “resmi”.
Dari sini dapat diketahui bahwa kekerasan atau konflik komunal dapat terjadi dengan bagaimanapun situasinya dan dimanapun tempatnya, adalah akibat disintegrasi tersebut, yang telah mengakibatkan perpecahan di berbagai sector atau sendi masyarakat yang banyak dianggap “tenang-tenang saja”. Disintegrasi tersebut dapat timbul akibat banyak hal, seperti perbedaan hak dan kepentingan, perebutan lahan, saling mengklaim tanah, kepentingan kelompok, ketidak pahaman dengan kelompok lain, terjadi diskomunikasi dan lain sebagainya. Yang semua hal itu seharusnya bisa ditangani sendiri oleh masyarakat yang bersangkutan dan juga hendaknya ada pengawasan ketat oleh pemerintah, tetapi pada kenyataannya itu semua tidak dapat menghandle atau mengatasi permasalahan yang ada. Masyarakatnya yang cenderung temperamental, egoism tinggi dan tidak menjunjung integrasi dan permusyawaratan menjadi salah satu factor pemicu konflik tersebut, terlebih control dan kebijakan dari pemerintah yang banyak tidak mendukung demi terjadinya integrasi tersebut. Maka disini perlu adanya semacam pengawal berupa knowledge atau pemahaman akan point-point integrasi itu sendiri yang salah satunya adalah pemahaman atau pengetahuan keindonesiaan, yang kiranya akan membangun dan membentuk kembali wacana dan semangat persatuan yang selama ini telah hilang entah kemana. 
Salah satu tokoh dengan pemikiran teori konflik adalah Lewis Coser, Coser melihat konflik sebagai mekanisme perubahan sosial dan penyesuaian, yang dapat memberi peran positif, atau fungsi positif, dalam masyarakat. Pandangan teori Coser pada dasarnya usaha untuk menjembatani teori fungsional dan teori konflik, hal itu terlihat dari fokus perhatiannya terhadap fungsi integratif konflik dalam sistem sosial. Coser sepakat pada fungsi konflik sosial dalam sistem sosial, lebih khususnya dalam hubungannya pada kelembagaan yang kaku, perkembangan teknis, dan produktivitas, dan kemudian konsern pada hubungan antara konflik dan perubahan sosial.
Coser memberikan perhatian terhadap asal muasal konflik sosial, sama seperti pendapat Simmel, bahwa ada keagresifan atau bermusuhan dalam diri orang, dan dia memperhatikan bahwa dalam hubungan intim dan tertutup, antara cinta dan rasa benci hadir. Sehingga masyarakat akan selalu mengalami situasi konflik Karena itu Coser membedakan dua tipe dasar koflik (Wallace&Wolf, 1986: 124), yang realistik dan non realistik. Coser sendiri banyak dipengaruhi oleh George Simmel. Simmel dan Coser adalah orang realis yang melihat konflik dan integrasi sebagai dua sisi saling memperkuat atau memperlemah satu sama lain.
Konflik realistik memiliki sumber yang kongkrit atau bersifat material, seperti sengketa sumber ekonomi atau wilayah. Jika mereka telah memperoleh sumber sengketa itu, dan bila dapat diperoleh tanpa perkelahian, maka konflik akan segera diatasi dengan baik. Konflik non realistik didorong oleh keinginan yang tidak rasional dan cenderung bersifat ideologis, konflik ini seperti konflik antar agama, antar etnis,  dan konflik antar kepercayaan lainnya. Antara konflik yang pertama dan kedua, konflik yang non realistik lah cenderung sulit untuk menemukan solusi konflik atau sulitnya mencapai konsensus dan perdamaian. Bagi Coser sangat memungkinkan bahwa konflik melahirkan kedua tipe ini sekaligus dalam situasi konflik yang sama.
 

This is our Country



"Garuda di dadaku, garuda kebanggaanku, ku yakin hari ini, pasti menang, kobarkan semangatmu, tunjukkan sportivitasmu, ku yakin, hari ini pasti menang".

Yah tentunya kita semua hafal akan lirik lagu atau lebih tepatnya lirik yel-yel diatas. Ya, tak salah lagi, lirik diatas merupakan lagu atau yel-yel yang selalu dilantunkan oleh para fans fanatik tim merah putih kala bertanding di berbagai ajang kompetisi internasional. Pada saat itu pula kita merasakan atmosfer pertandingan yang sangat dahsyat, dimana puluhan ribu suporter bersorak, berteriak, membangga banggakan nama bangsa mereka, seolah tiada bangsa lain selain bangsa mereka, semangat nasionalisme yang meledak-ledak dan timbul begitu saja dan amat dahsyatnya sampai-sampai tak jarang kita lihat ada orang yang menangis saking hikmatnya dia merasakan rasa yang teramat bangga dan cinta terhadap tanah air, yang disebut juga pseudonasionalisme. lupa sudah berbagai masalah yang melanda tanah air jauh hari sebelum pertandingan, dimana bangsa ini diterpa kasus dari berbagai sektor yang sangat memiris hati, konflik komunal dimana-mana, keadilan yang dirampas begitu saja, kerakusan para elitenya, terutama yang baru-baru ini terjadi, yakni panggung ketoprak yang dilakoni oleh para pemimpin kita yang hahahaha...menurut saya sangat mengocok perut saya sampai-sampai ingin saya muntahkan saja semua yang saya makan hari itu, saking konyolnya mereka sampai saya ingin berteriak, "wooooy...sana main di OVJ saja, ga usah ngurusin negara"...hahahaha....yah..itu lah cerminan bangsa ini,  sebagaimana yang dirasakan para suporter fanatik sang merah putih di hari-hari sebelum pertandingan berlangsung. Tetapi untung saja ada ajang sepak bola yang "lumayan" menghilangkan rasa pesimisme terhadap keadaan bangsa dewasa ini, yang sedikit banyak bisa menimbulkan kembali rasa memiliki dan rasa nasionalisme terhadap tanah air yang jarang kita rasakan kecuali saat momen 17an dan saat ada even pertandingan sepak bola, atau ajang kompetisi lainnya.Yah, kita sebagai bangsa Indonesia, terlebih para pemuda yang harus menepis jauh-jauh rasa pesimisme itu, seperti feri rotinsulu yang menepis bola untuk menyelamatkan gawang Indonesia dari ancaman lawan-lawannya, ya, kita harus menepis dan menyingkirkan lawan kita yang bernama "pesimis" itu, kita bangun kembali Indonesia kita perlahan tapi pasti, usah memikirkan para elite kita yang memalukan, kita harumkan bangsa dengan optimisme dan dedikasi tinggi untuk membangun dan berusaha untuk selalu "berguna" untuk masyarakat dan bangsa. Jauh dari itu semua, ini masih Indonesia kita, still standing like a rock!!